Maldives – The Beginning

Dec, 7 2016 – Dunkin Donuts

Tab windows masih berantakan di layar laptop, sudah tinggal H-30 dan gue masih belum bisa nentuin kemana destinasi yang pas buat tempat honeymoon.

Anesa bukan tipikal traveler yang gampang buat diajakin jalan. Pertama, jelas karena dia anak rumahan, yang setiap jam 9 malam sudah di miscall berkali-kali sama keluarganya buat pulang.

Dan kedua, Anesa cuma suka gunung, entahlah mungkin kelamaan hidup di Jakarta membuat dia butuh sesuatu yang menyejukkan.

Gue sendiri lebih suka pantai, karena pantai yang pertama kali buat gue mengenal apa yang namanya wanita. Tapi kali ini, agaknya gue harus berpikir ulang kalo harus memilih Bali atau Tiga Gili di Lombok yang udah terlalu mainstream buat tempat honeymoon.

Emang sih belakangan ini banyak destinasi baru yang mulai naik daun kaya, Gili, Belitung, Derawan, Raja Empat, atau Pulau Cinta.

Kemudian gue keinget sama kepulauan Maladewa, salah satu tempat yang pengen gue datengin (dan mungkin mustahil, kalo ga modal nekat). Most romantic private island kalo kata orang-orang , dan ga ada salahnya kan membahagiakan pasangan yang sebentar lagi bakal dapet sertifikat halal.

Gue selalu review destinasi yang mau gue datengin karena asli gue males kalo diatur dan diberesin sama tour guide. Kebetulan di awal Januari 2017 ini ada resort yang baru soft opening yang menawarkan sensasi dinner underwater dan tanpa pikir panjang … gue putusin buat ajak dia ke Hurawalhi.

Dan sebulan itu waktu yang super mepet buat gue siapin itinenary yang nekat ini, dan disinilah katanya, “kenikmatan traveler yang HaQiQi”.

MALDIVES – BEGITULAH ORANG – ORANG BIASA MENYEBUTNYA

Maladewa atau Maldives, begitulah orang – orang biasa menyebutnya memang jadi impian setiap orang (lebih tepatnya setiap pasangan yang ada di dunia) karena kalo jomblo yang dateng kesana sendirian, gue rasa bisa semakin buat dia ngerasa ngenes. Hahaha. Maldives merupakan Negara kepulauan yang letaknnya kalo di peta ada di selatan Sri Langka dengan ibukotanya adalah Male.

Mayoritas penduduk di negara ini adalah muslim, jadi gue ga perlu khawatir soal kuliner yang disana dan itu jadi salah satu alasan gue buat jadiin negara ini destinasi travelling pertama bareng sama pasangan, pasangan yang halal tentunya.

Alasan berikutnya negara ini memberlakukan visa on arrival, jadi ga perlu repot urus administrasi di Indonesia, yang mana sangat ngebantu gue banget di waktu yang mepet. Cukup siapin aja tiket pesawat pp dan yang kedua voucher hotel/resort (gue pake Agoda karena gue pikir udah well-known lah di seantero dunia).

Imigrasi disana sangat ramah buat para traveler, dan kami cuma perlu antri sebentar buat dapetin stamp di paspor dari pihak imigrasi.

PERJALANAN PANJANG YANG MENYENANGKAN

Semua rute dari Jakarta menuju Maldives mayoritas transit di Kuala Lumpur atau di Singapura dan dengan berbagai pertimbangan akhirnya gue pilih dengan rute transit tercepat melalui Singapore baru kemudian Male.

Kami berangkat pagi menjelang siang dari Jakarta dan sampai di Singapura pas di jam makan siang, dengan waktu transit sekitar empat jam, gue putusin buat lunch di depan Merlion (yang akhirnya gue batalin sepihak karena salah naik MRT).

DSC02130

Tampang bahagia anak rumahan

Selepas ashar, kami melanjutkan perjalanan kembali, satu hal yang luput dari perkiraan gue adalah perbedaan waktu antara Jakarta, Singapura dan Maldive, gue cuma liat jam yang tertera di di tiket dan gue gak nyangka bakal selama ini terbang dari SG ke MLE (kalo ga salah sekitar 6-7 jam). Untungnya hobi tidur Anesa sangat membantu dan bisa diajak kerjasama.

Kami mendarat hampir tengah malam di Male International Airport dan kedua handphone kami dalam keadaan mati, bandara mulai sepi dan kami kehilangan kontak dengan pihak hotel di Hulhumale. (to be continue)